Rumah Pohon Belajar

tempat berpikir terbuka menyajikan wacana

Buku Harianku, inspirasiku


Apa guna buku harian?

Banyak orang tidak mau memiliki buku harian semata takut dibilang feminin atau setidaknya sok romantis. Dalam bayangan mereka, orang yang memiliki buku harian seperti wanita yang terlalu dominan otak kanannya, sehingga buku harian menjadi semacam tempat mencurahkan perasaan, khayalan, angan-angan, dan kata hati; yang semuanya bermuara atau berkaitan dengan otak kanan kita yang non-logical. Dan itu kata orang khas perempuan. Bahkan barangkali ada yang berpendapat bahwa buku harian umurnya hanya sebatas ketika kita jatuh cinta dan mabuk asmara saja. Setelah itu berhenti, tak ada isinya lagi.

Untungnya saya termasuk yang tidak sependapat dengan hal ini. Buku harian tidak hanya pantas digunakan untuk mencatat luapan perasaan kita — kadang dalam bentuk puisi. Sedih, gembira, suka, duka, pujian, sumpah-serapah. Semuanya. Bahkan buku harian bisa kita pakai untuk mencatat hal-hal non perasaan.

Dulu, ketika SMP dan SMA, memang saya juga menulis buku harian. Tetapi buku harian saya kala itu memang sebagaimana persepsi orang banyak di atas: berisi luapan perasaan saya. Namun kini, seiring dengan kedewasaan saya (halah!) buku harian saya juga berubah. Pertama, bentuknya bukan buku lagi, tetapi file Winword di dalam laptop saya — yang sering saya bawa kemana pun pergi. Kedua, isinya bukan lagi sebatas luapan perasaan — dan bahkan hampir tidak ada he he — melainkan kalimat-kalimat atau artikel-artikel (walhasil segala tulisanlah) yang menarik buat saya untuk dikliping. Saya mencatatnya per tanggal, lalu setiap kalimat, frase kalimat, atau artikel saya berikan judul yang relevan (itung-itung belajar membuat judul yang baik).

Dengan bantuan fasilitas generate Table of Content dari Ms. Winword, saya membuat Daftar Isi di halaman depan “buku harian” itu, sehingga dengan mudah bisa mencari dan mendapatkan kembali tulisan-tulisan saya di Daftar Isi, lalu tinggal lompat ke tulisan dimaksud dengan bantuan hyperlink dari Winword — dan harusnya demikian itulah teknologi bisa dimanfaatkan: praktis, mudah, terstruktur, dan sangat membantu tugas kita.

Apa yang saya lakukan ini terinspirasi dari diskusi dengan Pak Rofiq salah satu ustadz SMAku, beberapa tahun yang silam. Beliau mengatakan “Andaikata kita mau belajar satu hal saja setiap hari, apa saja, maka genap satu tahun kita akan mendapatkan 365 hal yang baru. Ini mudah, tetapi tidak banyak yang melakukannya.”

Dari inspirasi ini, maka saya terbayang buku harian saya yang terbengkalai berbilang tahun entah dimana. Lalu saya bertanya pada diri sendiri, mengapa tidak ditulis saja di komputer? Maka, jadilah Diary saya berbentuk winword itu. Sejak itu, setiap saat ketika saya menemukan sesuatu yang baru, apapun, bahkan hanya kutipan (quote) dari seorang tokoh yang mengena di hati saya sekalipun, quote itu saya tulis berikut sumbernya dari mana (email, website, blog, dan sebagainya). Tidak rutin tiap hari sih, tetapi cukuplah untuk mengikat apa-apa yang saya baca dan serap dari sekitar. Dan hasilnya buat saya luar biasa.

Mengapa bentuknya buku harian? Ya. Hanya ada satu cara yang saya rasa mungkin — bagi saya — agar bisa tetap mengulang kembali “ilmu baru” yang saya dapatkan agar tidak hilang dari ingatan. Yakni dengan menuliskannya. Ini pun terinspirasi dari perkataan Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya.” Jika kita ingin ilmu yang kita dapat bisa melekat dan tetap bersemayam dalam pemahaman kita, maka tulislah, tulislah, tulislah. Bahkan lebih baik ditulis dengan bahasa kita sendiri.

Apa yang saya dapat dengan model buku harian seperti ini? Banyak. Pertama, tentu catatan hal-hal penting, ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan setiap saat tetap terjaga dan bisa saya buka kembali — kecuali file diary saya hilang tentu saja. Kedua – dan ini yang menakjubkan saya — ternyata kumpulan “ilmu” yang saya tulis di dalam buku harian itu saling berkaitan satu dengan yang lain secara otomatis! Kalau kita bicara dari sisi neurofisiologi (ilmu syaraf-khususnya otak) ternyata otak kita memiliki kemampuan menyimpan bermilyar informasi dan — uniknya — mampu menghubungkan satu informasi dengan informasi lainnya secara luar biasa! Gambarannya berkaitan dengan buku harian tadi mungkin begini: tiba-tiba saja di dalam otak kita sudah terangkai satu tulisan dengan judul tertentu, yang isinya adalah gabungan atau sinergi dari beberapa informasi yang pernah kita tulis — dan tentu kita baca — di buku harian kita. Subhanallah! Beberapa tulisan saya lahir dari cara seperti ini.

Anda tidak percaya? Cobalah sendiri, dan rasakanlah bagaimana otak Anda bekerja secara luar biasa. Anda mungkin bahkan tidak menyadarinya ketika suatu saat, suatu hari kelak, Anda tiba-tiba bisa menulis sesuatu yang merangkai apa yang sudah pernah Anda tulis dan baca di dalam buku harian Anda dengan mengalir begitu saja. Ya! Begitu saja, seperti Anda tidak menyadarinya pernah menulisnya berbulan yang lalu.

 

2 Comments

  1. karramallahu wajhah, saya sangat sepakat. Jadi teringat cara belajar untuk setiap ujian fisika. Ga penah saya hafal, yg ada saya tulis. TUlisan itu benar2 menolong sya jika penyakit lupa melanda, tangan saya seolah menulis sendiri rumus2 di lembar jawaban saya. Hehe, just wanna share🙂

    • pengalaman mbak ryani juga pnah saya coba ketika saya SMP. hebat juga. mnimal menimbulkan PD saat jawab. keliahatane bikin contekan. tapi keknya ada pelajaran yang menurut saya gak bisa hanya di hafal tapi perlu ditulis. lebih bagus lagi ditulis ulang dengan bahasa sndiri. membuat peta, ringkasan, jembatan keledai. oke nice sharing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: