Rumah Pohon Belajar

tempat berpikir terbuka menyajikan wacana

Do’a skripsi yang cespleng tanpa waktu tunda


berdoa

Saya masih ingat, saat itu akhir semester genap, Juni 2008

 

“Sudahlah semester depan ja,,” kata Pak W singkat. Tegas. “Salahmu dewe kemarin nandi wae gak tahu bimbingan, iki Indri ae wes arep sidang” Indri adalah teman seangkatanku yang kebetulan kami satu dosen pembimbing. Ruangan itu seperti senyap. Hanya suara putaran kipas angin tua di langit-langit yang terdengar jelas. “Sudahlah semester depan saja, tengah bulan ini saya mau ke Jambi ada proyek di sana selama dua bulan…”

 

Saya terus menekuri lantai sembari memilin kedua tangan yang basah. Ruangan itu mendadak serasa sempit dan membuat saya gerah. “Tetapi kelihatannya saya tidak punya pilihan lain, saya harus bisa lulus tahun ini pak,” jawabku memastikan. “Saya mungkin akan menyelesaikan skripsi saya di SP pak, sayang pak, ini sudah 80%.”

 

Dosen itu menggeleng. Rambut kepalanya yang sudah memutih dipenuhi uban membuatnya tampak lebih tua dari usianya. Asap kemudian mengepul dari rokok yang disulutnya. Ia kemudian tersenyum. “trus mau kamu apa? Saya disuruh bimbing kamu dari jambi sana, mau bayar pesawat saya? Wes gak iso. Semester ngarep ae?” jawab pak W dengan nada meninggi. Kepala saya semakin berat mendengar jawaban itu, kemudian saya memberanikan diri untuk berucap kepada pak W yang kata mahasiswa di jurusan fisika waktu itu jamak dikenal sebagai dosen killer. “bagaimana kalau ganti dosen pembimbing saja pak?” kataku memelas. “terserah kalo ada yang mau membimbing kamu, tapi awas kalo tidak bisa selesai sampai saya kembali dari Jambi. Saya akan minta ke satgas skripsi supaya saya yang menguji skripsi kamu, biar tahu kamu.” Sahut pak W dengan wajah agak emosi.

 

Kini beliau menyedot rokok itu dalam-dalam.

 

Saya termenung sesaat dan membayangkan akibat dari tindakan yang saya ambil. “bismillah…” dalam hati kecilku berucap memohon keberanian dari Robb. “saya putuskan untuk mencari dosen pembimbing lain pak” kataku lirih. “OK terserah, kalo kamu mampu dan ada dosen yang mau membimbing kamu, tapi kalo tidak ada dosen yang bersedia dan kamu minta saya kembali mbimbing kamu jangan harap lho??!!” jawab pak W. Saya sangat sadar dengan keputusan berani itu, keputusan yang dapat mengancam keberadaan saya sebagai mahasiswa semester akhir di kampus tercinta ini.

 

***

 

“Allohu Akbar Allohu Akbar” suara adzan Ju’mat berkumandang dari Masjid Al hikmah UM. Segera dengan langkah gontai saya melangkah menuju masjid dengan mengharap ketenangan dan petunjuk dari sang pencipta.

 

Maka, selepas shalat Jum’at, dalam sebuah sujud shalat sunah aku bermohon dengan permohonan yang panjang dan lugas, “Ya, Alloh. hambamu ini sedang dalam masalah. Hambamu ini sedang menyelesaikan skripsi dan membutuhkan dosen pembimbing. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya kepada-Mu aku bermohon. Berikanlah jalan untuk mendapatkan sedikit dari petunjuk-Mu untuk menyelesaikan skripsi ini. Secepat mungkin, Ya Alloh. Secepat mungkin.”

 

Setelah shalat jum’at di Masjid Al Hikmah UM, saya duduk-duduk di selasar bagian selatan dari masjid kampus itu. Tempatnya memang teduh dengan angin yang mengalir dari pohon-pohon sekitarnya membuatnya menjadi tempat duduk-duduk yang nyaman bagi siapa saja.

 

Saya menerawang jauh ke selatan, ke arah gedung Perpustakaan UM; tempat dimana saya sebulan yang lalu meminjam beberapa buku yang rencananya saya pergunakan untuk menyelesaikan skripsiku.

 

Tiba-tiba seseorang mencolek pundak saya. Saya pun menoleh.

 

“Kelihatannya kamu sedang punya masalah?” tanya pencolek pundak saya. Ia seorang laki-laki, mungkin umurnya beberapa tahun di atas saya. Senyumnya tersungging. Khas. Saya melihat persahabatan pada senyumnya itu.

 

Saya hanya tersenyum. Menggeleng.

 

“Aku pernah mengalami berbagai masalah. Bahkan diantaranya sangat berat,” katanya menceritakan dirinya sendiri. Lalu ia melanjutkan, seperti menganalisis, “Aku tahu dari mimik dan bahasa tubuhmu kalau kamu sedang punya masalah.”

 

Saya lalu menunduk, tak tahu antara malu menceritakan dan kebingungan mencari jalan keluar.

 

“Boleh aku tahu masalahmu apa? Siapa tahu aku bisa bantu.”

 

Saya sekali lagi menoleh pada laki-laki tak kukenal itu. Dari kata-katanya kelihatannya ia bertanya dengan tulus. “Saya mau menyelesaikan skripsi tapi ada konflik dengan dosen pembimbing, sekarang saya dipecat jadi mahasiswa bimbinganya” kataku pelan. Kalimat itu seperti tercekat di tenggorokan dan begitu berat diucapkan. “saya bingung mas, ada tidak dosen yang mau membimbing saya dalam waktu singkat ini. Saya sudah minta ke Pak Arif untuk jadi pembimbing saya, tetapi beliau tidak bersedia”

 

“Pak Arif hidayat? Kamu jurusan Fisika ya? Atau Elektro?”

 

“Fisika, Mas. Angkatan 2004.”

 

“Oh, aku juga Fisika! Tapi angkatan tuwek, 2002. Aku cuti beberapa kali. Baru sekarang ini mau melanjutkan lagi. Mungkin kuliahnya nanti bareng ambek angkatanmu.”

 

Ia kemudian menyebut nama dan mengulurkan tangan. Kujabat tangan itu dengan hangat. “Nama saya Alvan,” kata saya memperkenalkan diri pada Mas P itu.

 

“kenapa tidak mencoba tanya ke Pak S? Mungkin beliau bisa bantu”

 

“Oh ya mas, kenapa tidak terfikirkan ya?” saya baru teringat dengan dosen favoritku yang jarang berada di kampus. “terima kasih saranya mas, saya akan coba telepon beliau”

 

Selongsok harapan itu tumbuh lagi, dengan berbekal nomor telepon dan pulsa 10 ribu saya memberanikan diri menelepon Pak S.

 

“Assalamualaikum halo selamat sore bapak”

 

“Iya, wa alaikum salam. Dengan siapa ini?”

 

“Dengan Abdul Malik mahasiswa fisika UM, bapak” saya menyebut nama lengkap

 

“Oh malik, iya ada yang bisa saya bantu?”

 

“Pak, saya mau ngrepoti bapak lagi. Saya sedang dalam penyelesaian skripsi tetapi dosen pembimbing saya tidak bisa membimbing saya lagi” entah sudah berapa kali saya ngrepoti lelaki ini.

 

“he eh trus bagaimana?” jawabnya ramah.

 

“saya berharap bapak bersedia membimbing saya dalam skripsi ini”

 

“trus judulnya apa?”

 

“bla bla bla” mode on memang sengaja saya sensor judulnya. Off the Record

 

“Ok saya bersedia, jadwal bimbinganya nanti saya konfirmasi lagi ya”

 

“Ok bapak, terima kasih. Saya tunggu konfirmasi dari bapak. jazakumulloh” kalimat itu menutup pembicaraan singkat kita.

 

Jawaban itu begitu menyejukkan saya. Bagaimana tidak? Pada kondisi kritis begini ada seseorang yang membantu saya dengan begitu mudahnya. Tanpa jaminan. Tanpa bertemu langsung. Tanpa banyak tanya.

 

Alhamdulillah, saya bisa melanjutkan menyelesaikan skripsi dan sidang tepat pada waktunya. itu setelah keesokan harinya Pak S menelepon dan memberi jadwal bimbingan skripsi saya.

 

***

 

Tiga orang pemuda sedang bepergian. Mereka tertahan oleh hujan dan berlindung di dalam gua di sebuah gunung. Sebongkah besar batu tiba-tiba jatuh menutupi mulut gua tersebut. Mereka berkata satu sama lain. “Pikirkanlah kebaikan yang pernah engkau lakukan di jalan Allah dan berdo’alah kepada-Nya dengan kebaikan itu agar Allah membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi.”

 

Pemuda yang pertama pun melantun do’a, “Ya Allah! Aku memiliki orangtua yang telah renta. Aku juga memiliki anak-anak yang masih kecil. Aku memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orangtuaku terlebih dulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput (bagi domba-dombaku), dan tidak kembali ke rumah hingga larut malam. Aku menemukan kedua orangtuaku sudah terlelap. Aku lalu mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka. Aku tak ingin membangunkan mereka dari tidurnya. Aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orangtuaku, meski anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku. Maka keadaanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolong bukakan sebuah lubang agar kami dapat melihat langit.”

 

Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.

 

Kemudian pemuda yang kedua berdo’a, “Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah seorang pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak kecuali aku membayarnya sebanyak seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk di antara kedua kakinya, ia berkata: ‘Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)!’ Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi Engkau semata, maka biarkanlah batu itu bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar.

 

Maka Allah menggeser batu tersebut hingga terbuka lubang yang lebih besar.

 

Dan pemuda yang ketiga berkata, “Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu faraq beras. Ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah. Namun ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga hasil produksi, beberapa ekor sapi dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata: ‘Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku.’ Aku berkata padanya: ‘Pergilah dan ambillah sapi-sapi itu beserta gembalanya.’ Maka ia pun mengambilnya dan pergi. Maka, Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari batu tersebut.”

 

Maka Allah menggeser lagi batu itu hingga mereka bisa bebas keluar dari gua tersebut.

 

***

Hari ini, Jum’at, di atas tempatku berpijak yang sama, di masjid yang sama ini, setahun kemudian …

 

Aku mengenang hari itu. Aku mengenang detik yang menggetarkan dalam perjalanan hidupku itu. Sebuah momen, yang rasanya saat itu Dia begitu dekat denganku. Begitu terasa.

 

Air mataku berlinangan. Menetes perlahan di sela khutbah Jum’at di mimbar depan. Bukan karena Dia serasa begitu dekat denganku, sedekat dulu. Namun justru, rasanya kini akulah yang semakin jauh dari-Nya.

 

Hingga kini, aku belum pernah bisa mengulang do’a sebagaimana setahun yang lalu itu. Tak seperti ketiga pemuda di dalam goa itu, barangkali hingga kini aku tak memiliki barang sedikit simpanan kebaikan untuk sekadar bisa mengetuk pintu-Nya.

 

 

 

Keterangan.

Salahmu dewe = salah kamu sendiri (Lamongan)

nandi wae = kemana saja (jawa)

iki Indri ae wes arep sidang = ini Indri saja sudah mau akan sidang (jawa)

Wes gak iso. Semester ngarep ae = tidak bisa. Semester depan saja (jawa)

tuwek = tua (jawa)

 

 

Pak S, Pak W dan Mas P Nama ybs disamarkan untuk menjaga privasi dan kemungkinan saya ‘dituntut’ karena menceritakan pengalaman ini (** smile on **) Tak ada maksud lain kecuali semata untuk ibrah bagi kita semua.

 

 

 

 

6 Comments

  1. semoga bermanfaat

  2. speecless…..
    apik cong

  3. meta

    Lajutkan………..!!!!

  4. subhanallah, cerita ini, sungguh banyak sekali hikmahnya, great story. Terimakasih sudah berbagi.

    • alhamdulillah kalau medapat hikmah. tentunya mbak ryani pasti punya pengalaman juga yang bisa dishare,tentang Do’a.

  5. Insya Alloh ada, tetapi tidak sehebat pengalaman panjenengan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: